Monday, May 13, 2019

MENYIBAK TABIR TIGA BAGIAN ALAM GAIB


Di dalam buku Menyibak Tabir Alam Ghaib yang disusun oleh M. Iqbal Haetami, dikatakan bahwa ada tiga bagian alam ghaib yaitu :
  1. Gaib Indrawi
  2. Gaib Lintas Indrawi
  3. Gaib Mutlak
Gaib Inderawi
Gaib Indrawi adalah segala sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh indera kita. Gaib inderawi ini pun mungkin bisa gaib bagi seseorang, sedangkan bagi orang yang lainnya tidak; bergantung waktu dan tempatnya. Misalnya anak kita sedang bermain-main di halaman rumah, sementara kita asyik bekerja di dalam rumah. Kebetulan posisi bermain anak kita tidak bisa kita intip melalui jendela yang terletak di dekat ruang kerja kita. Nah, ini berarti permainan apa saja yang dilakukan oleh anak kita merupakan hal gaib bagi kita; sedangkan baginya, tentu saja bukan gaib.

Contoh yang lainnya : seorang anak yang cerdas, pintar, rajin belajar mampu menjawab dengan benar soal-soal ujian yang sukar dan rumit. Padahal soal-soal ujian itu belum pernah diajarkan sekalipun oleh gurunya. Apa penyebabnya ? Tak lain dan tak bukan, sebab anak tersebut rajin belajar dan membaca. Jadi, pengetahuannya luas dan jauh mendahului/melampaui teman-teman sekelasnya.

Sebaliknya bagi teman-teman sekelasnya, soal-soal yang sukar dan rumit itu boleh saja dibilang gaib. Mengapa ? Sebab mereka buta sama sekali tentangnya; soal-soal ujian itu terasa "gelap sekali" di mata mereka. Mereka tak punya bahan refrensi apa pun di otak mereka untuk menjawabnya.

Demikianlah, realitas pun bila tidak diketahui oleh manusia rupanya bisa dikatakan sebagai sesuatu yang gaib. Al Quran dengan gamblang menyebutkan bahwa kunci segala soal kegaiban ada di tangan Allah SWT. Sebagai makhluk Nya yang paling mulia, manusia sungguh memiliki banyak keterbatasan. Sepintar apa pun seorang manusia, tetap tidak akan mampu mengetahui semua hal (realitas) nyata yang terjadi di muka bumi ini.

Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Q.S. al-An'am ayat 59, "Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."

Gaib Lintas Inderawi
Dalam uraian terdahulu telah disinggung tentang pancaindera dan indera keenam. Bahwa tidak setiap manusia punya kemampuan untuk melihat dan merasakan sesuatu yang gaib-gaib. Oleh karena itu, orang yang dapat melihat alam gaib beserta segenap kehadiran makhluk-makhluk gaibnya disebut memiliki indera keenam (Memang sih, hal ihwal indera keenam masih menjadi pro kontra di kalangan para ahli; tapi di tulisan ini kita sepakat saja dalam indera keenam. Bahwa indera keenam memang ada).

Dengan kata lain, indera keenamlah yang memungkinkan seseorang bisa menangkap fenomena alam gaib. Inilah yang dimaksud dengan gaib lintas inderawi. Sementara indera keenam bisa dimiliki seseorang secara alami atau sebab diasah.

Allah SWT memang maha besar, Maha Kaya ilmu sekaligus Maha Berbagi akan segala ilmu yang dimiliki-Nya. Maka orang-orang yang bersedia susah-payah untuk mempelajari sesuatu (suatu ilmu) pasti akan diberi-Nya kemampuan. Namun, sudah pasti kemampuan yang diberikan itu dalam batas-batas dan kapasitas tertentu. Tak terkecuali orang-orang yang rela bersusah-payah melakukan olah batin.

Mereka yang suka melakukan olah batin akan makin terasah indera keenamnya. Terlebih mereka yang pada dasarnya sudah memiliki "bakat istimewa" tersebut. Begitulah adanya. Orang-orang yang rutin melakukan olah batin pada akhirnya sangat mungkin dapat mengetahui sesuatu di luar jangkauan pancainderanya. Bahkan konon, ada pula yang bisa menembus dimensi ruang dan waktu (sebagai contoh, ada orang yang rohnya jalan-jalan hingga ke Australia sementara jasadnya wadah-nya atau tubuhnya tetap di rumah).

Selain melalui olah batin (sehingga menajamkan indera keenam), gaib lintas inderawi bisa juga terjadi melalui pemberitaan makhluk gaib. Yang dimaksud disini adalah makhluk nonmateri; sebagai lawan dari makhluk materi, yakni manusia. Misalnya jin, malaikat, iblis, siluman dll.

Gaib Mutlak
Gaib mutlak sama sekali tidak diketahui oleh makhluk. Gaib mutlak betul-betul hanya diketahui oleh Allah SWT semata. Malaikat, jin, apalagi manusia, sama sekali tidak bisa mengetahuinya.

Gaib mutlak inilah yang merupakan gaib yang sesungguhnya. Sementara gaib yang pertama dan gaib yang kedua bolehlah dibilang sebagai kegaiban semu, pseudo-gaib. Mengapa? Sebab dua kegaiban tersebut masih bisa diketahui oleh manusia. Baik melalui olah batin maupun melalui pemberitaan makhluk nonmateri.

Bagaimana halnya dengan malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu (menemui) para nabi dan Rosul? Hal itu terjadi semata-mata sebagai suatu mukjizat dari-Nya atas status kenabian atau kerasulan mereka. Sekaligus juga untuk menunjukkan kebenaran ajaran yang mereka bawa. Bahwa ajaran tersebut benar-benar bersumber dari Allah SWT, Zat yang Maha Mengetahui segala yang gaib. 

No comments:

Post a Comment